SOLID SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI

Solid sawit atau solid decanter adalah salah satu produk samping dari pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan memiliki konsistensi yang mirip dengan ampas tahu. Solid sawit ini berwarna coklat tua dan memiliki aroma asam manis yang menarik dan merangsang ternak sapi untuk mengonsumsinya (Widjaja dan Utomo, 2001).

Keunggulan solid sawit sebagai bahan pakan ternak sapi adalah harga yang terjangkau, ketersediaan yang melimpah, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, dan memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk sapi.

REKOMENDASI STRATEGI ALTERNATIF YANG PRODUKTIF DI MASA PEREMAJAAN (REPLANTING) SAWIT MEMBANGUN PERKEBUNAN SAWIT BERKELANJUTAN

Alternatif usaha sampingan yang tidak mengganggu proses penanaman kelapa sawit, sangat diperlukan dimasa peremajaan. Peremajaan (replanting) kelapa sawit adalah proses mengganti tanaman sawit yang sudah tidak produktif, dimana tanaman sawit sudah berumur diatas 25 tahun yang produksinya dibawah 10 ton TBS/ha/tahun, tanpa membuka lahan baru. Proses peremajaan menjadi hal merisaukan para pekebun kelapa sawit karena mereka hanya menggantungkan penghasilannya hanya dari perkebunan sawit.

Lantas strategi apa saja  yang dapat dilakukan para pekebun selama proses peremajaan sawit?

TEKNOLOGI INOKULASI JAMUR, INOVASI JITU SOLUSI PENYEDIAAN PAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAPI SAWIT

Salah satu inovasi jitu sebagai solusi ketersediaan stok pakan adalah melalui teknologi inokulasi jamur. Pemanfaatan teknologi inokulasi pada bahan lignoselulosa di perkebunan sawit diharapkan mampu meningkatkan pendapatan peternak melalui hasil panen tambahan berupa Jamur Tiram, mendapatkan kecukupan pakan dengan protein yang memenuhi kebutuhan harian sapi, meningkatkan pertambahan bobot badan yang baik sehingga berdampak pada keuntungan pembesaran sapi, serta menjaga kelestarian lingkungan yang diharapkan akan terbentu ekosistem ekonomi sirkular menuju terwujudnya integrase pertanian peternakan rendah emisi karbon yang merupakan salah satu capaian green economy.

MENDORONG INDUSTRI KELAPA SAWIT RENDAH EMISI MELALUI PENDEKATAN SISTEM INTEGRASI SAPI - SAWIT (SISKA)

Perkembangan industri sawit di Indonesia mendapat banyak perhatian publik, terutama terkait dengan deforestasi hutan dan penggunaan input produksi (pupuk, listrik, dan herbisida). Kedua faktor tersebut memberikan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan seperti kehilangan biodiversitas (loss of biodiversity), peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan isu-isu keberlanjutan lainnya. Namun nyatanya, Sistem integrasi sapi-sawit (SISKA) justru berpotensi untuk mengurangi emisi GRK dan pada saat bersamaan meningkatkan keuntungan ekonomi industri kelapa sawit.

REARING DI LAHAN SAWIT UNTUK MENJAMIN KETERSEDIAAN BAKALAN SAPI PERAH

Luasnya perkebunan sawit di Indonesia menjadi peluang besar dalam pengembangan ternak ruminansia secara terintegrasi dengan memanfaatkan hijauan antar tanaman (HAT) (rumput, legume, limbah kebun sawit), limbah pabrik pengolahan CPO (bungkil inti sawit, lumpur sawit, dan serat perasan buah) sebagai bahan pakan ternak.

Genus : Elaeis (keluarga tanaman palem). Spesies : yang umum dibudidayakan E. guineensis (Afrika Barat Daya) dan E. oleifera (Amerika bagian Selatan dan Tengah). Pohon Kelapa Sawit : tinggi mencapai 24 m, buah kelapa sawit akan dipanen setelah berumur 2,5 tahun dan akan berbuah dua minggu sekali.

JENIS DAN KUALITAS HIJAUAN PAKAN DI BAWAH TEGAKAN KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN UTAMA SAPI

Upaya mendukung program perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (KSB) dilakukan dengan optimalisasi pemanfaatan hijauan yang tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit. Pengenalan jenis dan kualitas hijauan menunjukkan potensinya sebagai hijauan pakan dalam mendukung pengembangan peternakan serta peningkatan populasi ternak, sebagai hilirisasi dari ketahanan pangan.

SOLID SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI

Solid sawit atau solid decanter adalah salah satu produk samping dari pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan memiliki konsistensi yang mirip dengan ampas tahu. Solid sawit ini berwarna coklat tua dan memiliki aroma asam manis yang menarik dan merangsang ternak sapi untuk mengonsumsinya (Widjaja dan Utomo, 2001).

Keunggulan solid sawit sebagai bahan pakan ternak sapi adalah harga yang terjangkau, ketersediaan yang melimpah, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, dan memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk sapi.

REKOMENDASI STRATEGI ALTERNATIF YANG PRODUKTIF DI MASA PEREMAJAAN (REPLANTING) SAWIT MEMBANGUN PERKEBUNAN SAWIT BERKELANJUTAN

Alternatif usaha sampingan yang tidak mengganggu proses penanaman kelapa sawit, sangat diperlukan dimasa peremajaan. Peremajaan (replanting) kelapa sawit adalah proses mengganti tanaman sawit yang sudah tidak produktif, dimana tanaman sawit sudah berumur diatas 25 tahun yang produksinya dibawah 10 ton TBS/ha/tahun, tanpa membuka lahan baru. Proses peremajaan menjadi hal merisaukan para pekebun kelapa sawit karena mereka hanya menggantungkan penghasilannya hanya dari perkebunan sawit.

Lantas strategi apa saja  yang dapat dilakukan para pekebun selama proses peremajaan sawit?

TEKNOLOGI INOKULASI JAMUR, INOVASI JITU SOLUSI PENYEDIAAN PAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAPI SAWIT

Salah satu inovasi jitu sebagai solusi ketersediaan stok pakan adalah melalui teknologi inokulasi jamur. Pemanfaatan teknologi inokulasi pada bahan lignoselulosa di perkebunan sawit diharapkan mampu meningkatkan pendapatan peternak melalui hasil panen tambahan berupa Jamur Tiram, mendapatkan kecukupan pakan dengan protein yang memenuhi kebutuhan harian sapi, meningkatkan pertambahan bobot badan yang baik sehingga berdampak pada keuntungan pembesaran sapi, serta menjaga kelestarian lingkungan yang diharapkan akan terbentu ekosistem ekonomi sirkular menuju terwujudnya integrase pertanian peternakan rendah emisi karbon yang merupakan salah satu capaian green economy.

MENDORONG INDUSTRI KELAPA SAWIT RENDAH EMISI MELALUI PENDEKATAN SISTEM INTEGRASI SAPI - SAWIT (SISKA)

Perkembangan industri sawit di Indonesia mendapat banyak perhatian publik, terutama terkait dengan deforestasi hutan dan penggunaan input produksi (pupuk, listrik, dan herbisida). Kedua faktor tersebut memberikan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan seperti kehilangan biodiversitas (loss of biodiversity), peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan isu-isu keberlanjutan lainnya. Namun nyatanya, Sistem integrasi sapi-sawit (SISKA) justru berpotensi untuk mengurangi emisi GRK dan pada saat bersamaan meningkatkan keuntungan ekonomi industri kelapa sawit.

REARING DI LAHAN SAWIT UNTUK MENJAMIN KETERSEDIAAN BAKALAN SAPI PERAH

Luasnya perkebunan sawit di Indonesia menjadi peluang besar dalam pengembangan ternak ruminansia secara terintegrasi dengan memanfaatkan hijauan antar tanaman (HAT) (rumput, legume, limbah kebun sawit), limbah pabrik pengolahan CPO (bungkil inti sawit, lumpur sawit, dan serat perasan buah) sebagai bahan pakan ternak.

NISBAH DAN KUALITAS BAGIAN PELEPAH SAWIT SEBAGAI PAKAN RUMINAN DENGAN SISTEM PEMELIHARAAN INTEGRASI SAPI-KELAPA SAWIT

Genus : Elaeis (keluarga tanaman palem). Spesies : yang umum dibudidayakan E. guineensis (Afrika Barat Daya) dan E. oleifera (Amerika bagian Selatan dan Tengah). Pohon Kelapa Sawit : tinggi mencapai 24 m, buah kelapa sawit akan dipanen setelah berumur 2,5 tahun dan akan berbuah dua minggu sekali.

JENIS DAN KUALITAS HIJAUAN PAKAN DI BAWAH TEGAKAN KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN UTAMA SAPI

Upaya mendukung program perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (KSB) dilakukan dengan optimalisasi pemanfaatan hijauan yang tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit. Pengenalan jenis dan kualitas hijauan menunjukkan potensinya sebagai hijauan pakan dalam mendukung pengembangan peternakan serta peningkatan populasi ternak, sebagai hilirisasi dari ketahanan pangan.