SISKA Supporting Program

"Supporting SISKA adoption and expansion among commercial palm producers and nucleus plasma-farmers"
PT_SISKA-removebg-preview
New_Logo SISKA

Manajemen Kesehatan Hewan dan Animal Welfare pada Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (SISKA)

BAGIKAN

Manajemen  kesehatan  hewan  dan  animal  welfare pada sistem integrasi sapi kelapa sawit adalah salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan usaha integrasi sawit-sapi. Manajemen kesehatan hewan meliputi pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan penyakit hewan, serta peningkatan kualitas genetik, reproduksi, nutrisi, dan produksi hewan. Animal welfare meliputi perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar hewan, seperti pakan, air, tempat tinggal, kesehatan, perilaku, dan kesejahteraan. Manajemen kesehatan hewan dan animal welfare pada sistem integrasi sapi kelapa sawit bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas daging dan susu sapi, mengurangi biaya produksi dan kerugian akibat penyakit hewan, serta meningkatkan citra positif bagi industri kelapa sawit dan peternakan.

Hal-hal yang harus menjadi perhatian utama dalam manajemen kesehatan hewan dan animal welfare pada integrasi sapi kelapa sawit khususnya terkait mitigasi wabah penyakit adalah:

  1. Meningkatkan biosekuriti dan biosafety pada usaha integrasi sawit-sap Biosekuriti dan biosafety adalah upaya untuk mencegah masuknya dan penyebaran agen penyakit hewan ke dalam dan dari usaha integrasi sawit-sapi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi dan surveilans penyakit hewan secara rutin, melakukan vaksinasi dan pengobatan secara teratur, melakukan karantina dan isolasi bagi hewan yang sakit atau baru datang, melakukan desinfeksi dan sanitasi pada kandang, alat-alat, kendaraan, dan personel yang terlibat dalam usaha integrasi sawit-sapi, serta melakukan pengelolaan limbah dan jenazah hewan secara aman.
  2. Mengembangkan sistem peringatan dini dan tanggap darurat terhadap wabah penyakit hewan pada usaha integrasi sawit-sap Sistem peringatan dini dan tanggap darurat adalah sistem yang dapat mendeteksi adanya ancaman atau kejadian wabah penyakit hewan secara cepat dan akurat, serta memberikan respons yang tepat dan efektif untuk mengendalikan dan menanggulangi wabah penyakit hewan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas laboratorium untuk diagnosis penyakit hewan, meningkatkan  koordinasi  dan komunikasi  antara  pihak-pihak  yang terkait  dalam penanganan wabah penyakit hewan, seperti pemerintah, swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi profesi, organisasi masyarakat, serta media massa, serta meningkatkan kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat dalam mencegah dan melaporkan adanya kasus penyakit hewan.
  3. Mengembangkan strategi pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan pada usaha integrasi sawit- sap Strategi pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan adalah strategi yang dapat mengurangi prevalensi, insidensi, morbiditas, mortalitas, dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan akibat penyakit hewan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menentukan prioritas penyakit hewan yang harus dikendalikan atau diberantas berdasarkan kriteria seperti keganasan, kecepatan penularan, potensi zoonosis, dampak ekonomi, ketersediaan vaksin atau obat-obatan, serta kelayakan teknis dan ekonomis pengendalian atau pemberantasan penyakit hewan, serta menentukan metode pengendalian atau pemberantasan penyakit hewan yang sesuai dengan kondisi setempat, seperti vaksinasi, pengobatan, pembatasan pergerakan hewan, pemusnahan hewan sakit atau terinfeksi, serta kompensasi atau restitusi bagi peternak yang terdampak.

 

 

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) adalah dua penyakit hewan yang dapat menyerang sapi pada sistem integrasi kelapa sawit. Penyakit PMK disebabkan oleh virus yang dapat menimbulkan luka-luka pada mulut, kuku, dan puting susu sapi, serta menurunkan produksi daging dan susu. Penyakit LSD disebabkan oleh virus yang dapat menimbulkan benjolan-benjolan pada kulit, mata, hidung, dan mulut sapi, serta menurunkan kesehatan, reproduksi, dan kualitas kulit sapi. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama dalam manajemen kesehatan hewan dan animal welfare pada integrasi sapi kelapa sawit terkait mitigasi wabah penyakit PMK dan LSD adalah:

1.Melakukan vaksinasi terhadap sapi secara berkala dan sesuai dengan rekomendasi otoritas veteriner.

Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah terjadinya atau meluasnya wabah penyakit PMK dan LSD pada sapi. Vaksinasi harus dilakukan dengan menggunakan vaksin yang sesuai dengan jenis, umur, bobot badan, status fisiologis, dan tingkat produksi sapi, serta dengan dosis, frekuensi, cara pemberian, dan waktu yang tepat. Vaksinasi harus dilakukan oleh petugas yang terlatih dan berwenang, serta dengan menggunakan alat-alat yang bersih dan steril.

2. Melakukan pengendalian vektor atau pembawa penyakit PMK dan LSD pada usaha integrasi sawit-sapi.

Vektor atau pembawa penyakit PMK dan LSD adalah serangga atau hewan lain yang dapat menularkan virus penyebab penyakit dari satu hewan ke hewan lain. Vektor penyakit PMK antara lain lalat rumah, lalat hijau, lalat biru, lalat pasir, nyamuk, kutu busuk, kutu loncat, kutu sapi, caplak, tungau, dan tikus. Vektor penyakit LSD antara lain lalat rumah, lalat hijau, lalat biru, lalat pasir, nyamuk Aedes aegypti, nyamuk Culex quinquefasciatus, nyamuk Anopheles gambiae, nyamuk Mansonia uniformis, kutu sapi Haematopinus eurysternus, kutu sapi Linognathus vituli, caplak Rhipicephalus appendiculatus, caplak Amblyomma variegatum, caplak Boophilus decoloratus, caplak Hyalomma truncatum.

3. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan cara melakukan pengasapan atau fogging di sekitar kandang atau area penggembalaan sapi secara rutin untuk membunuh serangga atau hewan pembawa penyakit, melakukan pemasangan jebakan atau perangkap untuk menangkap serangga atau hewan pembawa penyakit di sekitar  kandang atau area penggembalaan sapi secara rutin untuk  mengurangi  populasi serangga atau hewan pembawa penyakit, melakukan pemberian insektisida atau akarisida pada tubuh sapi secara rutin untuk mencegah gigitan serangga atau hewan pembawa penyakit.

4. Melakukan pemisahan atau isolasi hewan yang sakit atau terinfeksi penyakit PMK atau LSD dari hewan yang sehat pada usaha integrasi sawit-sapi.

Pemisahan atau isolasi hewan yang sakit atau terinfeksi penyakit PMK atau LSD adalah cara untuk mencegah penularan penyakit dari hewan yang sakit atau terinfeksi ke hewan yang sehat. Pemisahan atau isolasi harus dilakukan dengan cara memindahkan hewan yang sakit atau terinfeksi ke kandang atau area penggembalaan yang terpisah dari kandang atau area penggembalaan hewan yang sehat. Kandang atau area penggembalaan yang digunakan untuk hewan yang sakit atau terinfeksi harus memiliki pagar atau pembatas yang kuat dan tinggi untuk mencegah kontak langsung atau tidak langsung antara hewan yang sakit atau terinfeksi dengan hewan yang sehat. Kandang atau area penggembalaan yang digunakan untuk hewan yang sakit atau terinfeksi juga harus memiliki ventilasi yang baik, pencahayaan yang cukup, dan sanitasi yang bersih.

 

Animal welfare adalah kondisi kesejahteraan hewan yang mencerminkan pemenuhan kebutuhan dasar hewan sesuai dengan prinsip-prinsip animal welfare. Prinsip-prinsip animal welfare adalah freedom from hunger and thirst (kebebasan dari lapar dan haus), freedom from discomfort (kebebasan dari ketidaknyamanan), freedom from pain, injury and disease (kebebasan dari rasa sakit, cedera, dan penyakit), freedom to express normal behaviour (kebebasan untuk mengekspresikan perilaku normal), dan freedom from fear and distress (kebebasan dari rasa takut dan stres).  Hal-hal utama yang harus diperhatikan dalam animal welfare pada integrasi sapi kelapa sawit adalah:

  1. Menyediakan pakan yang cukup dan berkualitas untuk sapi. Pakan adalah faktor penting yang mempengaruhi kesehatan, pertumbuhan, reproduksi, dan produksi sap Pakan yang diberikan kepada sapi harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi sapi sesuai dengan jenis, umur, bobot badan, status fisiologis, dan tingkat produksi sapi. Pakan yang diberikan kepada sapi harus bervariasi, seimbang, dan mudah dicerna oleh sapi. Pakan yang diberikan kepada sapi harus tersedia secara terus-menerus dan mudah dijangkau oleh sapi .
  2. Menyediakan air bersih yang cukup untuk sapi. Air adalah kebutuhan vital yang harus dipenuhi oleh sapi. Air berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, metabolisme, pencernaan, ekskresi, termoregulasi, dan produksi susu pada sapi. Air yang diberikan kepada sapi harus bersih, segar, tidak tercemar, dan tidak berbau. Air yang diberikan kepada sapi harus tersedia secara terus-menerus dan mudah dijangkau oleh sapi .
  3. Menyediakan kandang yang luas, bersih, nyaman, aman, dan sesuai dengan kondisi iklim setempat untuk sap Kandang adalah tempat tinggal atau perlindungan bagi sapi. Kandang harus memiliki ukuran yang cukup untuk memungkinkan sapi bergerak bebas, berbaring dengan nyaman, berdiri dengan mudah, dan mengekspresikan perilaku normal. Kandang harus memiliki lantai yang kering, bersih, tidak licin, tidak berlubang, dan tidak menyebabkan cedera pada kaki atau kuku sapi. Kandang harus memiliki atap yang dapat melindungi sapi dari panas matahari, hujan, angin, atau hawa dingin. Kandang harus memiliki ventilasi yang baik untuk mengatur sirkulasi udara dan menghindari kelembaban atau bau yang tidak sedap. Kandang harus memiliki pencahayaan yang cukup untuk memudahkan pengawasan dan pemeriksaan sapi.
  4. Menyediakan area penggembalaan yang luas dan bervariasi dengan rumput-rumput yang tumbuh di antara tanaman kelapa sawit atau rumput-rumput lainnya yang cocok untuk pakan sapi. Area penggembalaan adalah tempat dimana sapi dapat mencari pakan hijauan secara alami dan mengekspresikan perilaku eksplorasi, sosial, bermain, atau istiraha Area penggembalaan harus memiliki luas yang cukup untuk memungkinkan sapi bergerak bebas tanpa saling mengganggu atau bersaing. Area penggembalaan harus memiliki variasi rumput-rumput yang tumbuh di antara tanaman kelapa sawit atau rumput-rumput lainnya yang cocok untuk pakan sapi. Rumput-rumput tersebut harus memiliki kualitas nutrisi dan energi yang baik untuk sapi. Rumput-rumput tersebut juga harus bebas dari racun atau tanaman berbahaya bagi sapi.
  5. Menyediakan  fasilitas  perawatan  kesehatan  hewan  yang  memadai  untuk  sapi.  Fasilitas  perawatan kesehatan hewan adalah fasilitas yang digunakan untuk melakukan pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan penyakit hewan, serta peningkatan kualitas genetik, reproduksi, nutrisi, dan produksi hewan. Fasilitas perawatan kesehatan hewan yang harus disediakan untuk sapi antara lain alat perah susu, alat tes cepat daging dan susu, fasilitas kesehatan hewan, fasilitas inseminasi buatan atau perkawinan alami, serta fasilitas pemasaran hasil terna Fasilitas perawatan kesehatan hewan harus tersedia secara mudah dan terjangkau oleh peternak sapi. Fasilitas perawatan kesehatan hewan harus dioperasikan oleh petugas yang terlatih dan berwenang, serta dengan menggunakan alat-alat yang bersih dan steril.

 

 

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan manajemen kesehatan hewan dan animal welfare pada sistem integrasi sapi kelapa sawit adalah:

  1. Menerapkan biosekuriti dan biosafety pada usaha integrasi sawit-sap Biosekuriti adalah upaya untuk mencegah masuknya agen penyakit hewan ke dalam usaha integrasi sawit-sapi, sedangkan biosafety adalah upaya untuk mencegah penyebaran agen penyakit hewan dari usaha integrasi sawit-sapi ke lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi dan surveilans penyakit hewan secara rutin, melakukan vaksinasi dan pengobatan secara teratur, melakukan karantina dan isolasi bagi hewan yang sakit atau baru datang, melakukan desinfeksi dan sanitasi pada kandang, alat-alat, kendaraan, dan personel yang terlibat dalam usaha integrasi sawit-sapi, serta melakukan pengelolaan limbah dan jenazah hewan secara aman.
  2. Menerapkan   good   farming   practices   (GFP)   pada   usaha integrasi sawit-sap GFP adalah praktik-praktik yang baik dalam usaha peternakan yang sesuai dengan prinsip-prinsip animal welfare, yaitu freedom from hunger and thirst (kebebasan dari lapar dan haus), freedom from discomfort (kebebasan dari ketidaknyamanan), freedom from pain, injury and disease (kebebasan dari rasa sakit, cedera, dan penyakit), freedom to express normal behaviour (kebebasan untuk mengekspresikan perilaku normal), dan freedom from fear and  distress  (kebebasan  dari  rasa  takut  dan  stres). Hal  ini dapat dilakukan dengan cara menyediakan pakan yang cukup dan berkualitas, menyediakan air bersih yang mudah dijangkau, menyediakan kandang yang luas, bersih, nyaman, aman, dan sesuai dengan kondisi iklim setempat, menyediakan area penggembalaan yang luas dan bervariasi dengan rumput-rumput yang tumbuh di antara tanaman kelapa sawit atau rumput-rumput lainnya yang cocok untuk pakan sapi, menyediakan fasilitas perawatan kesehatan hewan yang memadai, seperti alat perah susu, alat tes cepat daging dan susu, fasilitas kesehatan hewan, fasilitas inseminasi buatan atau perkawinan alami, serta menghindari praktik-praktik yang dapat menimbulkan rasa sakit atau stres pada hewan.

 

Rekomendasi teknis yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan manajemen kesehatan hewan dan animal welfare pada sistem integrasi sapi kelapa sawit:

  1. Melakukan seleksi dan adaptasi bibit sapi yang sesuai dengan kondisi lahan perkebunan kelapa sawit. Bibit sapi yang dipilih harus memiliki karakteristik yang cocok dengan iklim, topografi, dan vegetasi lahan perkebunan kelapa sawit, seperti toleran terhadap panas, hama, dan penyakit, serta mampu memanfaatkan pakan hijauan dan limbah sawit secara efisien. Bibit sapi yang dipilih juga harus memiliki potensi produksi daging dan susu yang tinggi, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
  2. Melakukan pengaturan stocking rate dan stocking density yang optimal pada usaha integrasi sawit-sapi. Stocking rate adalah jumlah ternak yang dipelihara per satuan luas lahan, sedangkan stocking density adalah jumlah ternak yang dipelihara per satuan luas area penggembalaan. Pengaturan stocking rate dan stocking density yang optimal harus mempertimbangkan ketersediaan dan kualitas pakan hijauan dan limbah sawit, kebutuhan nutrisi dan energi ternak, kapasitas kandang dan area penggembalaan, serta dampak terhadap lingkungan. Stocking rate dan stocking density yang terlalu tinggi dapat menimbulkan persaingan pakan, stres, penurunan produksi, penularan penyakit, serta degradasi lahan.
  3. Melakukan penambahan pakan konsentrat atau suplemen yang sesuai dengan kebutuhan ternak pada usaha integrasi sawit-sapi. Pakan konsentrat atau suplemen adalah pakan tambahan yang mengandung nutrisi atau zat-zat tertentu yang dibutuhkan oleh ternak untuk meningkatkan performa produksi atau reproduksi. Pakan konsentrat atau suplemen yang dapat diberikan pada usaha integrasi sawit-sapi antara lain palm kernel cake (PKC), sludge, molasses, mineral, vitamin, probiotik, prebiotik, enzim, dan lain-lain. Penambahan pakan konsentrat atau suplemen harus disesuaikan dengan jenis, umur, bobot badan, status fisiologis, tingkat produksi, serta ketersediaan dan kualitas pakan hijauan dan limbah sawit.
  4. Melakukan pengawasan dan penilaian kesehatan hewan secara rutin pada usaha integrasi sawit-sapi. Pengawasan dan penilaian kesehatan hewan adalah kegiatan untuk memantau kondisi fisik, fisiologis, biokimia, imunologis, mikrobiologis, parasitologis, dan patologis hewan secara berkala. Pengawasan dan penilaian kesehatan hewan dapat dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan klinis (misalnya suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, warna selaput lendir), pemeriksaan laboratorium (misalnya darah, urin, feses), pemeriksaan ultrasonografi (misalnya kebuntingan), serta pemeriksaan post mortem (misalnya organ dalam). Pengawasan dan penilaian kesehatan hewan bertujuan untuk mendeteksi adanya gejala atau tanda penyakit hewan secara dini, menentukan diagnosis penyakit hewan secara akurat, menentukan tindakan pengobatan atau pencegahan penyakit hewan secara tepat.
  5. Melakukan pengelolaan animal welfare secara holistik pada usaha integrasi sawit-sapi. Pengelolaan animal welfare adalah kegiatan untuk memastikan bahwa hewan-hewan yang dipelihara dalam usaha integrasi sawit-sapi mendapatkan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasarnya sesuai dengan prinsip-prinsip animal welfare. Pengelolaan animal welfare harus melibatkan semua pihak yang terkait dalam usaha integrasi sawit-sapi, seperti petani perkebunan kelapa sawit, peternak sapi, penyuluh, pendamping, fasilitator, peneliti, dosen, mahasiswa, pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pengelolaan animal welfare harus dilakukan dengan cara mengedukasi, mensosialisasikan, mengadvokasi, mengawasi, mengevaluasi, serta memberikan insentif atau sanksi terkait dengan penerapan animal welfare pada usaha integrasi sawit-sapi.

 

Penulis : Dr Wahyu Darsono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Kami
1
Siskaforum.org
Gratis, gabung komunitas Siska Forum
Dapatkan info dan artikel menarik mengenai Sistem Integrasi Sapi dan Kelap Sawit